Just Say It Bro!!

HTI, NKRI dan Gus Dur

949

Hingar bingar tentang Khilafah di Indonesia telah diputus Oleh PTUN dengan menolak seluruhnya gugatan yang dilayangkan pihak HTI, walaupun dengan pengacara sekaliber Prof Yusril Ihza Mahendra, nyatanya gugatan HTI gagal di PTUN.

Sejarah HTI tidak terlepas dengan Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir, bisa dikatakan bahwa Hizbut Tahrir (HT) adalah protes terhadap IM yang hanya mementingkan penguasaan kekuasaan dalam level satu negara dalam hal ini Mesir, padahal impian (fiksi) para dedengkot HT adalah menyatukan seluruh dunia dalam salah satu Khilafah, sehingga dipilihlah Jalan non parlemen.

Dalam propagandanya HT mengimpikan berulangnya sejarah emas zaman Khalifah Nabi Muhammad SAW, padahal sejarahnya, Khalifah yang murni dan konsekuen dengan mengutamakan keutamaan dan ketaqwaan bisa dikatakan berhenti di Khalifah ke-4 yaitu, Ali bin Abi Thalib, karena perpindahan ke Khalifah Muawiyah bisa dikatakan lebih kental Politik kekuasaan.

Bagaimana dengan NKRI?? Para Founding Father telah sangat bijak memandang bahwa Indonesia mulai menyadari perlunya persatuan dengan adanya sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Persatuan dari keberagaman dan Bhineka itulah yang menggerakkan para pendiri bangsa untuk menyepakati (Bersepakat) bahwa PANCASILA adalah satu-satunya Ideologi yang cocok Untuk NKRI dan telah selesai perdebatan tersebut pada 18 Agustus 1945.

untuk mengingatkan kembali makna kesepakatan tersebut, mungkin Joke negarawan, Gusdur cukup mewakili.

Di emperan masjid selepas sembahyang magrib, para wartawan mengerubungi Gus Dur. Belum sempurna Gus Dur menyandarkan punggungnya ke tembok, pertanyaan berat disodorkan pada dirinya. “Gus, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila bukan negara Islam?” tanya wartawan. “Menurut siapa dulu, NU atau Muhammadiyah?” Jawab Gus Dur. “NU, deh Gus,” kata wartawan. “Hukumnya boleh, karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan.” jawab Gus Dur. “Kalau Menurut Muhammadiyah?” tanya wartawan. “Sama” jawab Gus Dur Singkat.

Wartawan melanjutkan pertanyaan berikutnya, ” Kalau Melawan Pancasila, boleh tidak Gus? kan bukan Al-Quran?” “Menurut NU atau Muhammadiyah?” Jawab Gus Dur. ” Muhammadiyah, coba,” kata wartawan. “Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak Janji” jawab Gus Dur. “Kalau menurut NU?” kata Wartawan “sama” jawab Gus Dur.

Sampai di sini, para wartawan mulai jengkel. mereka merasa dikerjain oleh Gus Dur. Jawaban menurut NU dan Muhammadiyah kok selalu sama.

Anda gimana sih, Gus. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kami disuruh milih menurut NU atau Muhammadiyah? Tanya Wartawan. “Ya…kita harus dudukan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, mas. Nggak boleh serampangan,” jawab Gus Dur. “Serampangan gimana?” sahut wartawan. “kalau Muhammadiyah itu kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah,” jawab Gus Dur. “Lha, Kalau NU?” tanya Wartawan. “sama” he2 (ala_nu). Itulah Gus Dur, HTI dan NKRI, sekian!! (Ali)

Comments