Just Say It Bro!!

Ketika Video Mesum Tidak Mempan Jelang Pilkada Kalbar

Karolin Margaret kembali diserang kasus video mesum, setelah sebelumnya juga beredar pada tahun 2012. Sudah 2 kali diserang isu video porno, Karolin tidak kehilangan popularitasnya.

730

Paras cantik belum tentu akan selalu membawa keberuntungan bagi seorang wanita. Hal tersebut mungkin sangat pas diberikan pada wanita cantik ini, alih-alih ingin mendongkrak popularitas sebagai Calon Gubernur Kalbar yang diusung PDIP, Karolin Margaret Natasa malah kembali diserang dengan kasus video mesum yang dulu sudah ditutup.

Screenshot video mesum yang sempat viral di sosial media

LKPI (Lembaga Kejian Pemilu Indonesia) ketika melakukan survei popularitas calon gubernur Kalbar tahun 2018, mendapatkan hasil yang mengejutkan, dimana tingkat popularitas tertinggi yaitu 87,3% adalah Bupati Landak yang saat ini dijabat oleh Karolin. Namun berbeda dengan tingkat popularitasnya, tingkat akseptabilitasnya hanya 66,7% bahkan diperkirakan kapabilitas serta elektabilitasnya sangatlah rendah dibanding calon lain.

Hal ini membuktikan posisinya sebagai anggota DPR RI sebanyak dua periode, putri Gubernur Kalimantan Barat dan kasus video porno yang diduga melibatkan Karolin, merupakan faktor penunjang paling utama popularitas Karolin. Walaupun sebelumnya BK DPR dan Polisi telah menutup kasus tersebut, namun hingga kini video tersebut masih menjadi perbincangan masyarakat dan beredar di media online secara bebas.

Beberapa ahli dan pengacara wanita 36 tahun ini telah memberikan klarifikasi, bahwa video tersebut hanyalah rakayasa digital yang digunakan untuk menjatuhkan pamor clientnya dan bahkan Polisi juga telah berkesimpulan bahwa pemeran dalam video tersebut tidak memiliki wajah yang sama dengan Karolin.

Viralnya video Karolin pada tahun 2012 silam, dijadikan isu politik untuk menurunkan popularitasnya. Begitu halnya menjelang pilkada 2018, Karolin juga diserang isu yang sama (video porno).

Jadi mengapa video tersebut muncul kembali setelah 5 tahun menghilang di dunia maya? Apakah untuk mengahdapi Pilkada agar dapat memenangkan kadernya harus menggunakan informasi ngatif seperti ini? Hal tersebut tanyakanlah pada otak mesum kelompok bokeper yang suka sebar Hoax dan mengkafir-kafirkan seluruh bentuk manusia di muka bumi ini, serta buatlah iklim politik sehat di tahun politik Indonesia saat ini. (Jeff)

Comments