Just Say It Bro!!

Ulama, Alumni 212 dan Politik

1,012

Terbentukny alumni 212 didasari adanya kasus penistaan agama beberapa waktu lalu, dengan tersangka Ahok. Agenda unjuk rasa pun diwarnai oleh berbagai kalangan, khususnya para ulama dan umat Islam.

Ulama atau pemuka agama lain yang selama ini dinobatkan sebagai simbol pemersatu bangsa, ternyata mempunyai keinginan untuk terjun ke ranah politik. Walaupun tidak semua ulama terjun ke politik, tetapi ada pihak-pihak yang menginginkan agar beberapa ulama terjun ke poltik, dengan alih-alih untuk kehidupan rakyat yang lebih baik.

Melihat kondisi yang ramai di media online dan media sosial tentang ulama ke politik, bukankah malah menjerumuskan para ulama. Politik yang penuh dengan aura hitam dan kepentingan belaka, dapat membuat ulama tidak mampu bersikap netral karena adanya kepentingan disana.

Dirilis dari liputan6.com bahwa ada beberapa alumni 212 yang ingin terjun ke politik. Pilkada 2018 seolah menjadi ajang untuk alumni 212 turut berkompetisi. Apakah ini wajar? Padahal pembentukan aksi 212 adalah untuk mengingatkan agar “jangan pernah menistakan agama lain”, tapi justru alumni 212 yang ingin turut serta pada pilkada 2018. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa terdapat isu “agama” yang dibawah dalam pilkada 2018.

Berkali-kali Presiden mengingatkan “jangan ada persaingan politik yang membawa isu SARA”. Hal ini bertujuan untuk kegiatan pesta demomrasi yang sehat dan tidak ada perpecahan bangsa setelah pilkada. Tetapi demi hawa nafsu belaka, semuanya dihalalkan.

Arrahmahnews.com merilis sebuah berita yang berjudul “Khattath Blak-blakan 212 dan Al-Maidah 51 Hanya Politik Berkedok Agama”. Agama telah menjadi alat untuk membodohi masyarakat dan pemeluk agama yang taat. Mereka yang merasa agamanya dinista lantas berduyun-duyun datang ke Jakarta untuk melakukan aksi bela agama. Padahal mereka telah dibodohi demi syahwat politik dan kekuasaan. Tidak disangka-sangka, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al-Khattath mengakui bahwa dengan aksi 212 dan semangat Al-Maidah 51 adalah gerakan politik untuk memenangkan Anis-Sandi, ketika jumpa pers La Nyalla Mattality di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2017).

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada isu agama dalam pilkada DKI beberapa waktu lalu untuk memenangkan Anis-Sandi. Dan disaat pihak alumni 212 merasa dikecewakan oleh sebuah partai politik, dengan mudahnya membeberkan akar masalahnya. Sedikit demi sedikit telah terbongkar bahwa terdapat politisasi agama dalam sebuah pilkada di Indonesia.

Oleh karena itu, untuk membentuk sebuah bangsa dan negara yang kuat, perlu sebuah tindakan positif dari masyarakat Indonesia. Tindakan yang tidak perlu menggunakan isu SARA dalam setiap kepentingan apapun dan gunakan visi misi untuk membangun. Beradu motivasi, gagasan dan upaya membangun bangsa dan negara dari para calon kepala daerah sangat diharapkan oleh masyarakat Indonesia.

Mari, wujudkan PILKADA yang Damai dan Aman!

 

Comments