Just Say It Bro!!

Hoax di Medsos, Tanggung Jawab Siapa?

328

 Hoax di Medsos, Penyebab Masalah di era Melenial (Sumber: jaknews.co.id)

Belakangan ini marak sekali Hoax yang berteberan di Media Sosial. Namun sebelum itu, apakah itu HOAX? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Sayangnya, banyak netizen yang sebenarnya mendefinisikan ‘hoax’ sebagai ‘berita yang tidak saya sukai’.

Hoax marak disebarkan oleh pengguna media sosial tanpa sadar (sumber: www.rappler.com)

Ini menunjukkan bahwa Hoax bukan sesuatu yang baru muncul atau baru nge-trend pada zaman melenial ini. Dilansir dari situs berita CNN Indonesia (29/12/2016), hingga akhir tahun 2016 setidaknya tercatat 800.000 situs dan blog telah memproduksi berita hoax. Tak hanya melalui website, hoax juga secara cepat menyebar melalui media social dan aplikasi pesan instan seperti FacebookWhatsApp dan Blacberry Messanger.

Pemerintah melakukan proteksi kepada masalah Hoax ini dengan melakukan revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk menjerat secara hukum, baik bagi pembuat maupun penyebar hoax tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ancaman pidananya selama 6 tahun penjara dan denda mencapai 1 miliar. Realisasi dari UU tersebut bisa kita lihat pada kasus Saracen, salah satu pembuat dan penyebar hoax mengatasnamakan agama pada tahun 2017 silam.

Nah sekarang, setelah pemerintah melakukan tugasnya, lalu tanggung jawab siapa lagi hoax ini? Momentum Pilkada Tahun 2018 dan Pilpres Tahun 2019 memungkinkan adanya peningkatan pembuatan dan penyebaran hoax. Sudah pasti hoax digunakan oleh oknum politik guna meraih dukungan pasangan dengan melakukan black campaign.

Dilansir dari Kompas (11/01/2018), Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan menyarankan untuk setiap penyedia jasa layanan media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram untuk turut melakukan filtering dan menindak akun-akun yang menyebarkan Hoax, khususnya yang menyebarkan hoax dengan unsur Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA).

Momentum Pilkada 2018 tergolong cukup besar dengan 171 daerah mengikuti pesta demokrasi tersebut. Namun, black campaign melalui hoax di media social merupakan suatu keprihatinan yang diungkapkan oleh KPU dan Kemenkoinfo. Selain itu, pendaftaran akun resmi di media sosial merupakan salah satu upaya guna menghindari penyebaran hoax dan memudahkan penindakan hukum.

Invasi Amerika ke Irak bukti Hoax “menyeramkan” (Sumber: static.republika.co.id)

Perlu disadari oleh setiap individu, hoax merupakan ancaman yang nyata bagi eksistensi suatu bangsa. Seperti contoh, akibat hoax Mc Namara, Amerika Serikat menyerang Vietnam dengan menuduh Vietnam menyerang kapal Maddox pada tahun 1964. Akibat hoax Powell, Amerika Serikat menyerang Irak dengan menuduh Irak memiliki senjata nuklir pada 2003 dan akibat Hoax Nariyah pada tahun 1990, terjad iperang teluk antara Kuwait dan Irak.

So guys, Mau nggak sih Negara kita Indonesia Raya menjadi Iraq atau Vietnam yang hancur akibat Hoax yang bertebaran?

JadilahGenerasi Indonesia yang lebihbijakmenanggapisuatu hal! (Afk)

Comments