Just Say It Bro!!

Hati-Hati! Media Sosial di Indonesia Semakin Meresahkan

188

Ngatain – Media sosial merupakan media untuk bersosialisasi antara satu sama lain melalui internet, yang dilakukan secara online tanpa adanya batas ruang dan waktu. Media sosial memiliki beragam jenis, yang dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan dasar dari pembuatan media sosial tersebut. Seperti Skype, Twitter dan Instagram. Skype digunakan untuk melakukan komunikasi secara online dan seolah-olah seperti bertatap muka. Twitter digunakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Sedangkan untuk Instagram merupakan sebuah media sosial yang cenderung digunakan untuk bersosialisasi menggunakan foto, video, maupun gambar bergerak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Hal ini menjadikan masyarakat Indonesia sebagai salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia.

Beberapa tahun terakhir, banyak pengguna media  sosial yang tidak menggunakan sebagaimana mestinya media sosial tersebut. Media sosial yang awal pembuatannya diperuntukkan sebagai komunikasi antara yang satu dengan yang lain (selain handphone) dan ditambahkan sedikit update status untuk mengungkapkan perasaan, keadaan, maupun berita kepada kawan. Tapi saat ini, media sosial mengalami perubahan yang sangat signifikan. Media sosial digunakan sebagai ajang propaganda untuk mencari dukungan atau memberikan berita palsu (hoax) untuk menjatuhkan lawan politik, serta sebagai media yang berkonten pornografi.

Melalui media sosial, seseorang ingin tampil lebih aktif di muka umum. Kenapa demikian? Hal ini terjadi karena rasa ingin dihormati, dihargai, dan diperhatikan. Sebelum seseorang tampil di muka umum dan berhadapan dengan banyak orang, tentunya orang-orang akan bertanya “siapa itu?”. dari pertanyaan itu kemudian muncul keingininan untuk mendapatkan follower yang lebih banyak agar masyarakat bisa googling di internet.

Beralih ke masalah politik, media sosial digunakan sebagai ajang propaganda dan provokatif, sehingga berita atau informasi yang tersebar belum pasti kebenarannya. Berita adu domba yang ditujukan kepada masyarakat agar tidak memilih seseorang atau suatu golongan, menjadi permasalahan yang serius. Karena sifat iri hati, ketidaksenangan, dan merasa benar sendiri membuat seseorang berambisius untuk mencapai suatu keinginan atau jabatannya. Informasi itulah yang menjadikan informasi tersebut palsu (hoax).

Selain itu, banyak akun di media sosial yang menggungah gambar maupun video yang berkonten negatif (porno). Akun-akun tersebut sangat membayakan bagi dunia pendidikan. Kemudahan akses internet yang diberikan, bukan hanya digunakan oleh orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Apabila anak-anak sejak usia dini sudah dipertontonkan dengan gambar-gambar porno atau adegan-adegan yang tidak pas untuk ditonton, maka perkembangan psikologis mereka dapat berubah kea rah yang negatif. Contohnya, sudah banyak berita tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama). Apakah anak-anak ini yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa?

Oleh karena itu, para pendahulu kita pernah berpesan “gunakan media sosial sebijaksana mungkin”. Karena informasi yang beredar luas ada kalanya adalah berita bohong. Mari bijak menggunakan media sosial! (Apr)

Comments