Just Say It Bro!!

Cara Merayakan Tahun Baru Masehi Agar Tidak Haram

1,426

Ngatain – Beberapa tahun belakangan ini, Desember sepertinya menjadi bulan kelabu yang selalu menghantui kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Indonesia. Apalagi menjelang detik-detik pergantian tahun masehi, isu bernuansa SARA sepertinya terus menguat dan mengancam sendi-sendi toleransi.

Pasti timbul pertanyaan di benak kamu, apa sih yang sebenarnya terjadi? Bukan karena angin dingin yang meniup mencekam dan air hujan yang turun deras dan kejam seperti kata Yuni Shara loh, jangan sampai gagal paham ya. Terus apa dong penyebabnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah adanya fatwa hukum yang simpang siur antara kubu yang mengharamkan dengan yang membolehkan perayaan tahun baru Masehi.

Alasan  tersebut saya kutip dari artikel yang ditulis oleh Rosidin, Pengurus LTN PBNU Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa setidaknya ada tiga “benang kusut” yang tampaknya menjadi penyebab timbulnya sikap pro dan kontra dari beberapa kelompok. Artikel yang sangat mencerahkan tersebut bisa dibaca melalui link ini.

Terlepas dari polemik tersebut, bagi muslim seperti saya, merayakan tahun baru 2018 Masehi adalah sah-sah saja, selama perayaan tersebut tidak ghuluw (melampaui batas atau berlebih-lebihan) dan melanggar aqidah. Karena menurut saya, kalender Masehi yang didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari, sejatinya adalah produk dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah digunakan oleh bangsa Mesir, jauh sebelum nabi Isa a.s lahir.

Sehingga kalender Matahari ini dapat dianalogikan seperti produk IPTEK yang telah dikembangkan oleh orang-orang non muslim agar memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia. Sebagai contoh, internet yang merupakan produk dari teknologi informasi, sebagian besar adalah hasil jerih payah ilmuwan-ilmuwan non muslim. Jadi tidak mungkin kan kita menganggap internet yang merupakan produk IPTEK sebagai sesuatu yang haram?

Selain itu, anggapan yang menyatakan bahwa kalender masehi adalah milik pribadi suatu agama sangatlah tidak tepat. Kalender, baik masehi, hijriah, maupun kalender lainnya sejatinya adalah milik umat manusia yang berfungsi sebagai pengatur dan pengolah waktu. Jadi sah-sah saja sebenarnya bersuka cita terhadap lahirnya produk ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia.

Nah bagi kamu yang ingin merayakan tahun baru Masehi, tapi masih bingung haram halalnya? Ga usah baper, cukup simak tips di bawah ini agar perayaan yang kamu lakukan 100 persen halal

  1. Jangan pergi ke tempat-tempat yang cenderung membuat kamu berbuat maksiat, seperti Diskotik, PP/Spa plus-plus, dan tempat maksiat lainnya
  2. Bagi yang masih jomblo, sebaiknya rayakan tahun baru  2018 bersama keluarga besar di rumah, seperti mengadakan makan malam bersama. Dengan kegiatan ini, ukhuwah islamiyah akan terus terjalin
  3. Bagi yang saat ini sudah punya pacar, sebaiknya tunda dulu melakukan kegiatan bersama, karena situasi dan kondisi malam tahun baru yang begitu romantis rawan membuat kejadian yang diinginkan terjadi
  4. Bagi yang sudah menikah, lebih baik kunjungi tablik akbar dan zikir bersama di masjid-masjid yang diselenggarakan pada malam tahun baru 2018
  5. Tidur lebih awal agar bisa melakukan sholat malam dan sholat tahajud pada malam tahun baru 2018. Kemudian berdoa kepada Allah agar tahun 2018 ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya

Jika kamu melakukan kegiatan diatas pada malam tahun baru, saya jamin perayaan tahun baru 2018 akan berjalan secara lancar, aman, dan pastinya HALAL. Sebenarnya menurut saya, kegiatan yang paling baik di setiap malam tahun baru adalah dengan melakukan muhasabah diri (evaluasi diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya). Mungkin video di bawah ini bisa membantu kita untuk melakukan evaluasi diri

Terlepas dari polemik haram halalnya perayaan tahun baru Masehi, pesan moral yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini yaitu, sebagai bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika, ayo mari kita sikapi perbedaan ini dengan sikap saling menghargai dan menghormati. Jangan sampai polemik ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Mari jadikan perbedaan tersebut sebagai  kebanggaan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lainnya di dunia. Indonesia itu kuat bukan karena persamaannya tapi karena adanya berbagai macam bentuk keragaman.

Comments